Sejarah seringkali dianggap sebagai deretan angka tahun dan nama tokoh besar yang membosankan jika hanya dibaca dari buku teks. Namun, di SMPN 1 Blora, pandangan tersebut dipatahkan melalui sebuah inisiatif kreatif yang dinamakan Mendongeng Ulang. Proyek ini merupakan sebuah penulisan sejarah lisan di mana siswa berperan sebagai sejarawan muda yang turun langsung ke masyarakat untuk merekam dan menyusun kembali narasi-narasi masa lalu yang hampir terlupakan. Blora, dengan kekayaan budaya dan tradisi sastra lisannya yang kuat, menjadi ladang ilmu yang tak terbatas bagi para siswa untuk menggali identitas diri mereka.
Proyek ini bertujuan untuk mendekatkan generasi muda dengan akar budaya mereka sendiri. Banyak cerita tentang perjuangan lokal, asal-usul desa, hingga kearifan lokal dalam mengelola hutan jati di Blora yang tidak tercatat dalam buku sejarah nasional. Melalui metode wawancara dengan para tetua desa, saksi sejarah, dan tokoh adat, siswa SMPN 1 Blora belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka mencatat setiap detail cerita, kemudian mengolahnya kembali ke dalam bentuk tulisan yang menarik namun tetap menjaga keaslian informasinya.
Menghidupkan Kembali Narasi Masa Lalu
Kegiatan di SMPN 1 Blora ini melatih banyak keterampilan sekaligus. Pertama adalah kemampuan komunikasi interpersonal; siswa harus belajar bagaimana mendekati narasumber yang lebih tua dengan penuh sopan santun agar mereka mau berbagi cerita. Kedua adalah kemampuan analisis; siswa dilatih untuk memverifikasi data dan membandingkan satu cerita dengan cerita lainnya guna mendapatkan gambaran sejarah yang lebih objektif. Proses mendongeng ulang ini memastikan bahwa ingatan kolektif masyarakat tidak hilang ditelan zaman, melainkan diwariskan kepada generasi penerus melalui tulisan yang rapi.
Output dari proyek ini sangat beragam, mulai dari kumpulan cerpen berbasis sejarah lokal hingga dokumentasi digital yang bisa diakses oleh masyarakat umum. Dengan cara ini, sejarah tidak lagi terasa jauh dan asing. Siswa merasa memiliki keterikatan emosional dengan tanah kelahiran mereka karena mereka mengetahui perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Penulisan sejarah lisan ini menjadi jembatan antar-generasi yang sangat efektif, mengurangi kesenjangan komunikasi antara kaum muda dan kaum tua di Kabupaten Blora.
Literasi Sejarah sebagai Pembentuk Jati Diri
Dampak jangka panjang dari program ini adalah munculnya kebanggaan terhadap identitas lokal. Di tengah arus globalisasi yang seringkali membuat remaja kehilangan arah, mengenal sejarah lokal memberikan jangkar yang kuat. Siswa diajarkan bahwa untuk menjadi warga dunia yang baik, mereka harus terlebih dahulu memahami dari mana mereka berasal. Proyek di SMPN 1 Blora ini membuktikan bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi soal kemampuan untuk membaca lingkungan dan menghargai suara-suara dari masa lalu.