Penerapan Kurikulum Merdeka di berbagai jenjang pendidikan, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), telah membawa angin segar dalam upaya memperdalam pemahaman siswa. Salah satu pilar utamanya adalah pembelajaran berbasis proyek nyata, yang memungkinkan siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan dengan kehidupan mereka.
Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan keleluasaan kepada sekolah dan guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih personal dan bermakna. Ini berbeda dari kurikulum sebelumnya yang cenderung lebih kaku. Pada tanggal 10 April 2025, dalam sebuah webinar nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Bapak Dr. Iwan Syahril, menegaskan bahwa “proyek nyata adalah jantung Kurikulum Merdeka.” Beliau mencontohkan bagaimana di SMP Negeri 5 Jakarta, pada hari Senin, 19 Mei 2025, pukul 09.00 WIB, siswa kelas VIII melaksanakan proyek “Urban Farming” di lahan sekolah yang sebelumnya tidak terpakai. Proyek ini, yang dimulai sejak awal semester genap 2025, melibatkan pembelajaran lintas mata pelajaran, mulai dari IPA (pertanian), Matematika (perhitungan luas), hingga IPS (pemasaran hasil panen).
Melalui proyek nyata, siswa diajak untuk menemukan masalah, merancang solusi, dan melaksanakannya, yang secara langsung berkontribusi pada memperdalam pemahaman konsep-konsep yang diajarkan. Ini juga membantu mereka mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Di SMP Tunas Bangsa, pada hari Rabu, 11 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, guru Bahasa Indonesia, Ibu Siti Aminah, memfasilitasi proyek “Podcast Edukasi.” Siswa memilih topik yang relevan dengan lingkungan sekitar, melakukan riset, menulis naskah, dan merekam podcast. Proyek ini tidak hanya memperdalam pemahaman siswa tentang struktur teks dan tata bahasa, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi lisan dan digital mereka.
Selain itu, proyek nyata juga memupuk rasa tanggung jawab dan kemandirian. Siswa merasakan langsung dampak dari pekerjaan mereka, baik keberhasilan maupun tantangan yang dihadapi. Sebagai contoh, di SMP Adil Makmur, pada hari Minggu, 27 Juli 2025, pukul 10.00 WIB, tim siswa dari klub Lingkungan Hidup melakukan kampanye “Kurangi Sampah Plastik” di pasar tradisional setempat. Mereka membuat poster, menyebarkan brosur, dan menjelaskan pentingnya daur ulang kepada para pedagang dan pengunjung. Kegiatan ini, yang diawasi oleh Bapak Wisnu, guru pembimbing, adalah hasil dari proyek yang mereka kembangkan selama beberapa minggu, dan berhasil memperdalam pemahaman mereka tentang isu lingkungan sekaligus memicu aksi nyata. Kurikulum Merdeka dengan fokus proyek nyatanya terbukti efektif dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih holistik dan bermakna bagi siswa SMP.